Jakarta (Humas) — Hasil penelitian yang dilakukan oleh dua siswi MTsN 7 Jakarta, Najwa Syarifah Agustina dan Tazkia Ainaya Trapsila telah rampung dan siap bertarung dengan para peneliti muda lainnya dalam kompetisi riset bergengsi di Kementerian Agama RI tingkat nasional. Lolosnya Najwa dan Tazkia dalam 30 besar MYRES ini menjadi tambahan bekal pengalaman dalam berkehidupan bagi para peneliti muda ini.

Najwa dan Tazkia menuturkan pengalaman ini menjadi warna baru bagi mereka dalam memahami tentang pembelajaran yang tidak hanya berkutat pada ruang kelas, tetapi juga pada fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar.

Berawal dari tekad menjadi juara di kompetisi MYRES, keduanya mendapatkan satu fenomena menarik di sekitar Kota Jakarta Timur, yakni adanya pembangunan sebuah masjid yang mengakulturasikan ornamen budaya Tionghoa dengan Islam.

Di tengah semangat moderasi beragama yang tengah digaungkan, Najwa dan Tazkia mengambil kesempatan ini untuk melakukan penelitian terkait bagaimana toleransi beragama yang mendasari pembangunan Masjid Tjia Kang Hoo.

Keduanya melakukan penelitian secara etnografi dengan turun langsung ke tengah-tengah kegiatan masyarakat Tionghoa yang ada di sana, yakni di daerah Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Mereka belajar secara langsung bagaimana nilai-nilai kekerabatan menjadi tali penting dalam toleransi beragama di sana.

“Masyarakat muslim Tionghoa yang ada di sini bisa dikatakan sebagai minoritas, 30% masyarakat di sini adalah Tionghoa muslim, tapi mereka dapat hidup berdampingan dan begitu damai, saling menghormati,” ujar Najwa saat ditemui di sela-sela masa karantina.

“Kegiatan mereka juga didukung penuh oleh masyarakat lainnya, seperti saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, begitu pula saat Imlek, semuanya saling membantu dalam menyiapkan hari-hari besar tersebut,” tambah Tazkia yang juga mendapatkan masa karantina. Masa karantina ini ditujukan agar keduanya bisa lebih fokus dalam mengolah dan menyajikan data penelitian yang sudah mereka dapatkan.

“Ada banyak nilai kehidupan yang didapatkan dalam penelitian ini, kami bangga anak-anak didik kami dapat sejauh ini dalam melakukan penelitian bahkan terjun langsung di tengah masyarakat. Ke depannya kami berharap, penelitian yang mereka lakukan dapat memberikan kebermanfaatan bagi banyak pihak dan tentunya dalam membuka lebih luas khazanah ilmu pengetahuan,” ucap Takhrojie, guru pembimbing MYRES bagi keduanya.

Masjid Tjia Kang Hoo ini digagas oleh anak dari almarhum Tjia Kang Hoo (red: yang setelah mualaf berganti nama menjadi Abdul Sholeh). Keberadaan komunitas Tionghoa ini sendiri tidak terlepas dari kedatangan para warga etnis Tionghoa yang kemudian menempati daerah Pekayon di masa lalu. Seiring berkembangnya zaman, masyarakat etnis Tionghoa ini ada yang menjadi mualaf. Meskipun begitu, tradisi khas Tionghoa masih tetap dipertahankan oleh masyarakat di sana. (NM)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 − seven =